Tag Archives: batu

Demam Batu ala Aceh

Hai! It’s been a long time, yah, saya ga nulis-nulis. Hihi, pemalas memang.
Kali ini saya akan membahas tentang demam batu yang sedang melanda Aceh.

Batu? Iya batu! Tapi bukan sembarang batu. Batu giok namanya. Giok Aceh mendadak terkenal sejak keluar dalam cover majalah Gem Stone. Tu loh, majalah kesukaan Bapak-bapak penggila batu akik, permata, dan konco-konconya. Jadi ceritanya, ada sebuah lokasi di Kabupaten Nagan Raya, namanya Betung, yang menyimpan ribuan ton batu giok. Sejak awal 2014 lalu, batu giok dari Betung ditambang secara besar-besaran, dan dikirim ke Jakarta, Eropa, China, serta berbagai belahan dunia lain. Namun segera saja penambangan batu ini menjadi tidak sehat, pemerintah daerah pun menghentikan penambangan batu secara membabi buta ini pada medio 2014. Apalagi ditengarai penambangan batu ini dilakukan di hutan lindung. Oh, no!!
Tapi kalau penambangan skala kecil masih tetap dilakukan oleh masyarakat setempat, lokasinya kurang tau persis di hutan lindung ato di luar hutan lindung. Belum pernah ngecek ke sana juga, sih. Hehe.
Anyway, batu giok ini terkenal banget! Seiring dengan ketenarannya, harga jualnya pun melambung setinggi langit, mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Wow!! Tapi ya tentu saja tergantung kualitasnya.
Jadi batu giok ini dibagi jadi dua jenis, yang pertama adalah nephrite/jade. Batu ini berwarna hijau muda sampai hijau tua pekat. Terkadang ada totol-totolnya kalau sudah diasah. Jika disenter dari bawah maka cahayanya akan tembus, cakep deh.

IMG_2669.JPG
Batu nephrite/jade

Batu jenis di atas relatif miring, harga paling tinggi ‘hanya’ ratusan ribu, untuk jenis yang totolnya cantik.
Nah, jenis yang kedua ini juaranya, yaitu jenis Idocrase. Giok yang sudah mengkristal ini menjadi idola tidak hanya bagi orang Aceh, tapi juga orang-orang di luar Aceh, terutama Jakarta. Permintaan yang tinggi membuat harga ikut merangkak naik, hingga cari batu ini di Aceh sendiri sudah susah, karena barang langsung dikirim ke Jakarta. Idocrase tadinya hanya yang berjenis lumut, lalu ditemukan lagi jenis solar, bio solar, belimbing, anggur, dan lain-lain. Penamaan lokal ini didasarkan pada tampilan warna batu idocrase itu sendiri. Saya juga kadang suka bingung kalo lagi iseng main ke lapak batu, dengerin penjelasan yang jual cuma manggut-manggut sok ngerti aja. Hehe.

IMG_2803.JPG
Batu idocrase

Batu idocrase lumut sudah sering menjadi juara dalam berbagai pameran batu yang diselenggarakan di Jakarta. Harganya yang fantastis membuat orang-orang penasaran dan pengin juga memiliki versi ‘murahnya’.
Kebetulan tadi saya keliling lapak batu di Banda Aceh untuk mencari pesanan Kakak. Wuih, bener-bener, deh, perjuangan benar mencari batu idocrase dengan harga di bawah satu juta. Tapi rupanya hari ini saya sedang hoki. Saya nemu batu idocrase dengan harga lumayan miring. Udah bisalah dipamerin ke sesama pecinta batu pemula, “Eh, ini giok Aceh, loh.”, sounds cool, kan? Hehe.
Batu idocrase lumut ini juga banyak ditemui di Aceh Tengah, di Desa Lumut. Konon katanya, nama lumut diambil dari nama desa itu. Tapi ada juga orang bilang nama lumut diambil dari penampakan batu yang seperti ada lumut di dalamnya. Entah mana yang betul, yang penting dari Nagan atau Aceh Tengah, batu-batu ini sama indahnya.

Pemerintah Aceh sendiri tampaknya mulai serius menggarap potensi batu yang ada di wilayahnya. Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penjualan batu tampaknya jadi tujuan utama. Bahkan, pemerintah menyediakan lokasi khusus untuk menjual batu. Lokasi ini menampung hampir 20 kios penjual batu. Terletak di Ulee Lheue, lokasi ini diharapkan bisa menjadi tujuan wisata bagi turis yang pulang dari Sabang, atau turis yang sekedar berkeliling Banda Aceh.
Komplek lapak batu di Ulee Lheue ini lumayan lengkap. Mulai dari jenis akik agate, kalimaya, pancawarna, nephrite/jade, idocrase, dan yang lagi hits sekarang; batu cempaka dari Panga, Aceh Jaya. Batu cempaka ini tidak semahal idocrase memang, tapi berhubung lagi tren, yah, sesuai hukum pasar, permintaan naik harga ikut naik. Cuma masih terjangkaulah.

Saya suka sekali batu-batu cantik. Bukan penggemar yang fanatik, sih, jadi kalau mau beli, ya, menyesuaikan budget aja, dan bahkan lebih sering dikasih suami, kakak, atau teman. Hihi.
Sejauh ini saya punya batu satam dari Belitung, kecubung dari Pangkalan Bun, nephrite/jade, idocrase lumut, bio solar, cempaka madu dari Bengkulu, jasper ati ayam, pancawarna, dan giok timun.

Hmm, gimana, tertarik ikut mengkoleksi batu? 🙂